Jumat, 25 Oktober 2013

PENGETAHUAN KONSUMEN TENTANG PRODUK

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Perilaku konsumen merupakan sebuah studi tentang proses pengambilan keputusan pada individu, kelompok atau organisasi maupun masyarakat luas untuk menggunakan atau tidak terhadap suatu produk (barang, jasa dan ide). Proses pengambilan keputusan menjelaskan interaksi dinamis antara unsur-unsur (elemen) kognitif, efektif dan konatif atau psikomotorik; yakni dengan pendekatan satu arah (linier) maupun penetapan timbal balik (reciprocal deterministic).
Pemahaman perilaku konsumen bagi manajer pemasaran berperan sebagai dasar kegiatan penyusunan dan evaluasi strategi pemasaran (bauran pemasaran, segmentasi pasar, differentiation and positioning product) agar dapat mencapai target volume dan nilai pemasaran yang telah dicanangkan. Sedangkan bagi manajer produksi berperan sebagai dasar penetapan kualitas dan kuantitas yang berorientasi trend terkini yang disukai oleh konsumen. Bagi birokrat, analisis perilaku konsumen memainkan peran kritis dalam pengembangan (penetapan dan evaluasi) kebijakan publik yang menjamin rasa aman dan nyaman bagi konsumen. Adapun bagi konsultan peran kajian perilaku konsumen sebagai dasar memberikan pertimbangan solusi dan arah kebijakan di tingkat perusahaan maupun kebijakan publik. Bagi peneliti, menemukan dan menganalisis hal-hal baru dalam perilaku konsumen berdasarkan kaidah ilmiah sebagai bahan acuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang diimplementasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

B.     Rumusan Masalah
Secara garis besar dalam makalah ini akan diangkat masalah-masalah yang sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah pengetahuan konsumen tentang produk.
2.      Apakah yang dimaksud dengan keterlibatan produk.
3.      Bagaimanakah mengetahui kebutuhan konsumen akan suatu produk.

C.    Tujuan Penulisan Makalah
Secara intisari dalam makalah ini akan diketahui tujuan penulisan adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui arti pengetahuan konsumen tentang produk.
2.      Mengatahui apa yang dimaksud dengan keterlibatan produk.
3.      Mengetahui cara kebutuhan konsumen akan suatu produk.























BAB II
PEMBAHASAN


A.    Arti Pengetahuan Konsumen
Pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki oleh konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen. Pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian.
Keterangan :
§  Pengetahuan konsumen adalah informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa, serta pengetrahuan lainnya yang terkait dengan produk dan jasa tersebut.
§  Pengetahuan objektif adalah informasi yang benar mengenai kelas produk yang disimpan dalam memori konsumen.
§  Pengetahuan subjektif adalah persepsi konsumen mengani apa dan berapa banyak mengenai kelas produk.
§  Kelas produk adalah tingkat pengetahuan produk yang paling luas, yang meliputi beberapa bentuk, merek atau modal.

Menurut Peter dan Olson (1999) membagi 3 jenis pengetahuan produk yaitu :
1.      Pengetahuan atribut produk (atribut fisik : deskripsi ciri fisik produk; atribut abstrak : deskripsi karakteristik subjektif produk).
2.      Pengetahuan manfaat produk :
§  Manfaat fungsional : manfaat yang dirasakan konsumen secara fisiologis. Contoh : minum teh sosro akan menghilangkan rasa haus.
§  Manfaat psikososial : aspek psikologis (perasaan, emosi dan mood) dan aspek sosial (persepsi konsumen terhadap bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya) yang dirasakan konsumen setelah mengonsumsi suatu produk.
3.      Pengetahuan tentang kepuasan yang diberikan produk bagi konsumen
§  Konsumen merasakan bukan hanya manfaat positif saja tetapi merasakan juga manfaat negatif adapun contoh sebagai berikut :
ü  Konsumen tidak merokok untuk memperoleh manfaat positif yaitu kesehatan jasmani yang lebih baik sedangkan konsumen yang merokok kesehatan jasmani kurang baik.
§  Persepsi resiko adalah konsumen seringkali merasakan manfaat negatif tersebut berdasarkan kepada persepsinya mengenai manfaaat tersebut.
§  Persepsi resiko dibagi dalam 7 macam yaitu :
ü  Resiko fungsi (resiko karena produk tidak berfungsi yang diharapkannya).
ü  Resiko keuangan (resiko kesulitan keuangan yang dihadapi konsumen setelah membeli suatu produk atau jasa).
ü  Resiko fisik (dampak negatif dari konsumen setelah menggunakan suatu produk).
ü  Resiko psikologis (konsumen mengkonsumsi, membeli atau menggunakan produk dengan perasaan, emosi, atau ego).
ü  Resiko (konsumen meminta pendapat orang sekelilingnya dalam membeli atau mengkonsumsi suatu produk).
ü  Resiko waktu (waktu yang sia-sia yang akan dihabiskan konsumen karena mengkonsumsi atau mebeli produk / jasa).
ü  Resiko hilangnya kesempatan (kehilangan kesempatan untuk melakukan hal lain karena konsumen menggunakan mebeli suatu produk / jasa).

B.     Pengetahuan Produk
Pengetahuan produk adalah kumpulan berbagai macam informasi mengenai produk. Pengetahuan ini meliputi kategori produk, merek, terminology produk, atribut atau fitur produk, harga produk dan kepercayaan mengenai produk (Sumarwan, 2002).
Konsumen memiliki tingkatan pengetahuan produk (levels of product knowledge) yang berbeda, yang dapat dipergunakan untuk menerjemahkan informasi baru dan membuat pilihan pembelian. Tingkatan pengetahuan dibentuk ketika seseorang mengkombinasikan beberapa konsep arti ke dalam kategori pengetahuan yang lebih besar dan lebih abstrak (dilihat pada tabel 3 dan tabel 4).
Tabel 3. Tingkatan Pengetahuan Produk
Tabel 4. Contoh Tingkat Pengetahuan Produk
C.    Rantai Arti-Akhir Pengetahuan Produk
Konsumen dapat mengkombinasikan ketiga jenis pengetahuan produk untuk membentuk suatu jaringan asosiatif sederhana yang disebut rantai arti-akhir. Rantai arti-akhir (means-end-chain) adalah suatu struktur pengetahuan yang menghubungkan pengetahuan konsumen tentang ciri produk dengan pengetahuan konsekuensi dan nilai. Kita dapat menciptakan suatu arti-akhir yang lebih rinci dengan membagi tingkatan ciri, konsekuensi dan nilai ke dalam dua kategori :

Bagan 16.
Rantai Arti-Akhir Pengetahuan Produk
(Peter dan Olson, 1996)

Definisi keenam tingkatan dalam rantai arti akhir :
a)      Ciri nyata : Perwakilan kognitif karakteristik fisik produk. Dapat langsung diterima dan nyata. Contohnya harga.
b)      Ciri abstrak : Abstrak yang mewakili beberapa ciri nyata lainnya, subjektif dan tidak dapat diukur langsung.
c)      Konsekuensi fungsional : Konsekuensi nyata dan langsung penggunaan produk. Contohnya mudah penggunaannya.
d)     Konsekuensi psikososial : Konsekuensi psikologis dan sosial (bagaimana orang lain memandang saya) dari penggunaan produk. Contohnya orang memandang saya berbeda.
e)      Nilai instrumental : Model perilaku yang diinginkan atau konsekuensi penggunaan produk yang abstrak. Contohnya menjadi pusat perhatian.
f)       Nilai terminal : Status akhir yang diingiinkan atau konsekuensi penggunaan produk yang sangat abstrak. Contohnya harga diri.

D.    Keterlibatan Produk
Keterlibatan mengacu pada persepsi konsumen tentang pentingnya atau relevansi personal suatu objek, kejadian, atau aktivitas. Konsumen yang melihat bahwa produk yang memiliki konsukuensi relevan secara pribadi dikatakan terlibat dengan produk dan memiliki hubungan dengan produk tersebut.
Keterlibatan (involvement) adalah status motivasi yang menggerakkan serta mengarahkan proses kognitif dan perilaku konsumen pada saat mereka membuat keputusan. Contoh : konsumen akan membeli suatu produk serta menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga untuk berkunjung ke beberapa toko atau bertanya pada lebih banyak pramuniaga. Quesioner yang bisa diajukan ke konsumen untuk melihat tinggi rendahnya keterlibatan terhadap suatu produk, antara lain :
a.       Saya akan tertarik membaca mengenai jagung Bisi 1.
b.      Saya akan membaca artikel mengenai segala macam yang berhubungan dengan jagung Bisi 1.
c.       Saya telah membandingkan jagung Bisi 1 dengan jagung merk lain.
d.      Saya memperhatikan iklan jagung Bisi 1.
e.       Saya membicarakan jagung Bisi 1 ini dengan petani lain.
f.       Saya meminta nasehat pada petani lain mengenai keunggulan Bisi 1.
g.      Saya menghabiskan waktu lama untuk berkunjung ke kios-kios pertanian.

Keterlibatan tersebut mengacu pada persepsi konsumen tentang pentingnya atau relevansi personal suatu obyek atau kejadian atau aktivitas tertentu. Jika keterlibatan terhadap suatu produk tinggi, maka konsumen akan mengalami tanggapan pengaruh yang lebih kuat seperti emosi dan perasaan yang kuat. Walaupun pemasar sering memandang keterlibatan produk konsumen hanya tinggi-rendah, namun keterlibatan produk sebenarnya dapat berkisar dari tingkat :
§  Rendah           : Sedikit atau tidak ada relevansi
§  Moderat         : Ada relevansi yang dirasakan
§  Tinggi             : Relevansi sangat dirasakan
Tingkat keterlibatan konsumen dipengaruhi 2 sumber (Peter & Olson, 1996). Setiap sumber dapat mengaktifkan atau menciptakan rantai arti-akhir yang menghubungkan pengetahuan ciri produk pada kosekuensi dan nilai yang relevan secara pribadi. 2 sumber yang mempengaruhi keterlibatan antara lain :
1.      Relevansi pribadi intrinsik
Mengacu pada pengetahuan arti-akhir konsumen yang disimpan dalam ingatan, berdasarkan pengalaman masa lalu terhadap produk.
2.      Relevansi pribadi situasional
Ditentukan oleh aspek lingkungan fisik dan sosial yang ada di sekitar kita yang dengan segera mengaktifkan konsekuensi dan nilai penting sehingga membuat produk dan merk yang terlihat, relevan secara pribadi.

Bagan 18.
Konsep Keterlibatan
(Solomon, 2007)
Menurut Solomon (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan konsumen adalah faktor personal (kebutuhan, kepentingan, ketertarikan, nilai); faktor stimulus atau faktor obyek (Alternatif defferensiasi, sumber informasi dan isi dari komunikasi); faktor situasi (saat pembelian atau penggunaan, peristiwa). Sementara itu keterlibatan juga dapat melibatkan : periklanan, produk serta keputusan pembelian yang semuanya akan memberikan kemungkinan hasil dari keterlibatan yang dapat dilihat pada kotak terakhir dari bagan diatas.


Bagan 19.
Tingkat Keterlibatan dan Pengetahuan Produk
(Peter dan Olson, 1996)

Motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Penyebab munculnya motivasi karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Kebutuhan itu sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan (uncomfortable) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan.

Bagan 20.
Model Motivasi
(Schiffman dan Kanuk, 2000)


Penjelasan model : Stimulus / rangsangan akan menyebabkan pengenalan kebutuhan. Pengenalan kebutuhan akan menyebabkan tekanan kepada konsumen sehingga adanya dorongan pada dirinya untuk melakukan tindakan yang bertujuan. Tindakan dalam perilaku konsumen misalnya adalah mencari informasi produk, mendatangi toko, membeli produk.


Teori Motivasi Mc Clelland
Tiga kebutuhan dasar yang memotivasi seorang individu untuk berperilaku antara lain :
a.       Kebutuhan sukses
§  Adalah keinginan manusia untuk mencapai prestasi, reputasi dan karier yang baik.
§  Memiliki kesamaan dengan kebutuhan ego dan aktualisasi diri.
b.      Kebutuhan afiliasi
Adalah keinginan manusia untuk membina hubungan dengan sesamanya, mencari teman yang bisa menerimanya, ingin dimiliki orang sekelilingya, dan ingin memiliki orang yang bisa menerimanya (kesamaan dengan kebutuhan sosial).
c.       Kebutuhan kekuasaan
Adalah keinginan seseorang untuk bisa mengontrol lingkungannya, termasuk mempengaruhi orang-orang di sekelilingnya. Kesamaan dengan kebutuhan aktualisasi diri.

E.     Kebutuhan Konsumen
Kebutuhan dapat dikategorikan sebagai kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer adalah sesuatu yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan yang utama. Di samping kebutuhan primer juga ada kebutuhan sekunder yaitu kebutuhan yang muncul setelah kebutuhan primer terpenuhi, yang biasanya adalah akibat dari reaksi konsumen terhadap lingkungan dan budayanya.
TEORI KEBUTUHAN
Kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen (felt need) bisa dimunculkan dari faktor luar konsumen seperti aroma makanan            orang jadi ingin makan, iklan dan komunikasi pemasaran        orang yang tidak rencana beli jadi membeli. Selain dari luar konsumen juga ada faktor dari dalam diri konsumen sendiri (fisiologis) atau innate needs misal rasa lapar, haus (makanan), air, udara, pakaian rumah atau seks. Kebutuhan ini juga disebut dengan primary needs dimana produk tersebut dibutuhkan untuk mempertahankan hidupnya.
Di samping kebutuhan primer juga ada kebutuhan sekunder/motif yaitu kebutuhan yang diciptakan (acquired needs) adalah kebutuhan yang muncul sebagai akibat reaksi konsumen terhadap lingkungan dan budayanya. Dimana kebutuhan ini bersifat psikologis karena berasal dari subjektif konsumen. Misalnya rumah adalah kebutuhan primer tapi karena ingin dipandang sebagai orang sukses dan mampu sehingga ia memilih lokasi dan bentuk rumah yang bergengsi.




























BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Perilaku (tindakan) adalah berorientasi tujuan (goal-oriented behavior). Artinya untuk memenuhi kebutuhannya, seorang konsumen harus memiliki tujuan akan tindakannya. Tujuan dibedakan kedalam tujuan generik (generic goals) yaitu kategori umum dari tujuan yang dipandang sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan.
Misalnya konsumen mengatakan ingin memiliki rumah, maka ia menyatakan tujuan generiknya. Rumah akan memberikan pelindungan fisik dan psikis / rasa aman kepada konsumen. Kedua adalah tujuan produk khusus (specific product goals) yaitu produk dan jasa yang dipilih konsumen sebagai tujuannya. Ketika konsumen menyatakan ingin membeli rumah dan lokasinya di Komplek Villa Duta Bogor, maka ia telah menyatakan specific product goals. Contoh lain ketika seseorang haus, ia mencari minuman (tujuan generic) maka produsen harus menawarkan jika anda haus minum teh botol sosro yang segar.

Kebutuhan yang diarasakan / felt needs seringkali dibedakan berdasarkan kepada manfaat yang diharapkan dari pembelian dan dan penggunaan produk. Pertama adalah kebutuhan utilitarian yang mendorong orang membeli produk karena manfaat fungsional dan karakteristik objektif dari produk tersebut. Misalnya obeng       memudahkan dalam membuka dan memasang kembali mur pada peralatan. Yang kedua kebutuhan ekspresive atau hedonik       psikologis seperti rasa puas, gengsi, emosi, dan perasaan subjektif lainnya. Misalnya konsumen yang sering memakai dasi di kantor. Dasi tidak memberikan manfaat fungsional tetapi memberikan manfaat estetika dan tuntutan sosial.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB USAHA TIDAK BERJALAN MAKSIMAL

Pilihan dalam melakoni sebuah usaha hanya dua, yaitu sukses atau gagal. Namun, untuk pengusaha yang tangguh, pilihannya menjadi sukses atau belum berhasil, karena mereka tidak mengenal kata gagal dalam kamus hidupnya. Tapi, sebatas semangat baja dan keyakinan saja tidak cukup mengantarkan kita kepada kesuksesan dalam berusaha. Pada bahasan kali ini kita ingin mengajak semua untuk sejenak mengoreksi kembali perjalanan usaha yang sudah berjalan hingga hari ini. Dan jika kita merasa hasil yang kita dapatkan belum maksimal atau belum sepadan dengan modal dan usaha yang kita lakukan, mungkin ada beberapa faktor yang terjadi seperti dibawah ini :
1.      Kemampuan Manajerial yang Tidak Handal
Menjalankan usaha atau bisnis tidak lepas dai peran pelakunya. Dalam hal ini kita sendri sebagai pemilik usaha. Dan sebagai pemilik usaha kemampuan manajerial mutlak harus kita kuasai. Karena dengan kemampuan tersebut kita bisa membuat strategi usaha yang baik, membuat rencana pengembangan, dan hal-hal lain yag berhubungan dengan fungsi manajerial untuk mengatasi hal ini, segera luangkan waktu kita untuk mengasah kemampuan seperti dengan mengkuti seminar, membaca buku, browsing di internet, atau pun berdiskusi dengan banyak orang. Banyak orang terjatuh bukan karena bodoh melainkan malas belajar.
2.      Kurang Menguasai Bidang Usaha yang Dilakoni
Jika kita mengalami hal ini, sama saja kita sedang menghambur-hamburkan modal usaha. Sebagai contoh, bagaimana outlet pulsa yang kita jalankan bisa maju jika kita sendiri tidak memahami apa saja produk pulsa yang bisa kita jual. Pemahaman bisnis atau bidang usaha yang diambil secara kontekstual sangat membantu arah, tujuan, misi, dan visi usaha.
3.      Pengelolaan Administrasi dan Keuangan yang Buruk
Pengelolaan administrasi dan keuangan yang buruk akan mempersulit majunya usaha. Pencatatan administrasi dan keuangan secara sembarang akan semakin memperburuk kondisi usaha karena tidak dapat membaca transaksi dan aktivitas yang telah terjadi. Pemasukan yang besar pun menjadi sia-sia tidak dikelola dengan baik. Jika pengelolaan ini tidak bisa dilakukan sendiri tidak ada salahnya meminta bantuan orang lain untuk melakukannya.
4.      Perencanaan yang Tidak Matang
Perencanaan menjadi faktor pertama dalam menentukan keberhasilan sebuah usaha. Tidak ada kesuksesan atau keberhasilan yang datang begitu saja. Semuanya berawal dari perencanaan yang matang. Tidak jarang perencanaan yang dibuat tidak berjalan karena yang kita buat adalah berdasarkan pengalaman orang lain tanpa disesuaikan dengan kondisi kita terlebih dahulu.
5.      Tempat Usaha Tidak Mendukung

Ada istilah tempat menentukan prestasi. Pernyataan tersebut benar adanya, apalagi hubungannya dengan dunia usaha atau bisnis. Banyak faktor yang mempengaruhi baik buruknya tempat usaha yang kita miliki. Sebagai contoh, kita tentu tidak ingin mendirikan usaha dilokasi yang rawan kejahatan. Kita juga tidak ingin mendirikan usaha ditengah-tengah masyarakat yang daya belinya tidak sesuai dengan harga jual produk kita. Tempat usaha sebisa mungkin dipelajari dulu keunggualan dan kekurangannya seperti budaya, karakter, strata sosial, pendapatan, selera, keamanan dan faktor lainnya.

Minggu, 28 April 2013

KISAH CERITA BISNIS TERBAIK


Seorang usahawan muda di Banten mempunyai 1 juta dollar AS atau setara dengan 9,4 miliar. Dia bingung untuk investasi kemana. Kalau deposito dan sebutlah ia akan mendapat bunga 4 persen, setahun uangnya bertambah Rp 376 juta juta atau Rp 31 juta per bulan. Cukup enak. Namun, bukan wataknya menyimpan uang di bank. Ia lebih suka bertarung dilapangan.
Kepada ayahnya yang seorang usahawan komponen otomotif, anak muda itu minta saran. Ayahnya berkata, “Mantapkan hatimu. Masuklah ke bisnis yang kamu sukai dan benar-benar kuasai. Jangan terombang-ambing. Jangan silau kemajuan usahawan lain. Putuskan, dan lupakan !”
Anak muda ini terkesiap oleh ucapan ayahnya. Ia kemudian menimbang lagi. Kalau membangun hotel bintang dua, ia mendapatkan dua hotel dengan masing-masing di atas 50 kamar. Jika hotel selalu “hampir penuh” dan dikelola dengan baik, ia bisa berharap modal kembali kurang dari empat tahun. Ia tinggal menghitung laba.
Kalau membuka kafe waralaba asing, ia bisa memperoleh setidaknya 9 kafe kelas satu. Ia masukkan ke mal dan bayar sewa. Kalau berjalan mulus, investasi bisa balik dalam tiga tahun. Jika gagal ? Terombang-ambing, ia ingat akan nasihat ayahnya. Masuk ke bisnis yang ia kuasai benar. Dan bisnis itu adalah perminyakan. Selama delapan tahun terakhir, ia bekerja di sebuah perusahaan minyak bumi. Maka, ia tetapkan hati masuk ke minyak.
Berdasarkan izin legal yang ia peroleh, ia gunakan uangnya untuk “mencari sumur minyak” di Pulau Sumatera. Menurut hitungan sederhana, kalau beruntung, pencarian pertama saja sudah bisa menemukan sumur minyak. Pada eksplorasi pertama, tidak ditemukan apa-apa. Ia tidak terpukul. Pada eksplorasi ke delapan, ditemukan sumur minyak, tetapi tidak layak. Ongkos eksplorasi malah lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan minyak. Di sini ia berdebat. Terus apa tidak ? Uangnya hanya cukup untuk dua kali lagi pencarian minyak lagi. Kalau hasilnya nihil ?
Pada titik amat kritis ini, ia teringat kembali nasihat ayahnya. Putuskan dan lupakan. Ia putuskan untuk terus mencari. Lupakan, agar ia tidak menyesal kalau seluruh hasilnya buruk. Pada pencarian kesembilan, kembali timnya gagal. Pada kesempatan terakhir, usahawan ini bisa tersenyum. Timnya menemukan sumur minyak. Tidak besar, “hanya” 10.500 barrel per hari. Ia sujud syukur. Kini ia bisa membangun perusahaan ritel, beberapa kafe, restoran yang laris, dan membeli saham sebuah bank swasta nasional.

WANITA KARIER BISA BERPERAN GANDA


Sekarang ini banyak sekali kita jumpai wanita yang berperan ganda sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga. Ada beberapa alasan yang mendorong wanita untuk menjalaninya. Peran ganda ini tidak dapat dihindari karena kebutuhan hidup tidak bisa terpenuhi bila hanya suami yang bekerja. Selain alasan tersebut, emansipasi di zaman modern ini juga memberi ruang yang lebih luas bagi para wanita untuk mendapatkan peluang sehingga dapat bersaing dengan kaum pria. Wanita yang bekerja di luar rumah juga masih berperan sebagaimana ibu rumah tangga, baik sebelum berangkat kerja maupun setelah pulang kerja.
Bagi para suami-istri yang bekerja dengan penghasilan yang mapan dan tinggi, tentu tidak perlu repot dengan segala macam urusan rumah tangga, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, membereskan rumah, dan menjaga anak-anak. Sebab, semua bisa diserahkan kepada pembantu rumah tangga. Tapi, bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, tentunya tidak demikian. Semua pekerjaan harus diselesaikan sendiri. Syukur-syukur punya suami yang pengertian, sehingga bisa di ajak berbagi pekerjaan rumah tangga.
Untuk wanita karier yang terpisah dari sang suami yang bekerja jauh di luar kota, tentunya perjuangan hidup ini terasa lebih berat. Semakin harus dihadapi sendiri sekaligus berfungsi sebagai single parent juga buat anak-anaknya. Dibutuhkan kematangan jiwa dan kesabaran luar biasa untuk menjalani peran seperti ini. Berbisnis juga bisa menjadi pilihan alternatif yang tepat bagi wanita. Tidak hanya wanita yang masih single yang bisa merintis usaha untuk meningkatkan taraf ekenomi keluarganya. Seorang wanita yang sudah berumah tangga juga mempunyai potensi yang besar untuk menjalankan bisnis selain berperan sebagai seorang istri dan ibu dikehidupan rumah tangganya. Dewasa ini, dari segi jumlah, fenomena wanita karier makin meningkat dan merata dibelahan penjuru Tanah Air.
Setidaknya ada empat alasan yang menjadikan jumlah wanita karier meningkat. Diantaranya, keinginan untuk menambah penghasilan keluarga, keinginan untuk mempunyai bisnis sampingan, keinginan untuk meninggalkan pekerjaan, dan keinginan untuk menginvestasikan atau menambah modal. Selain itu, faktor bosan dari rutinitas rumah tangga juga menyumbang angka pertumbuhan wanita karier. Sehingga untuk menghilangkan kejenuhan ini, para wanita memiliki bisnis sampingan pada kegiatan sehari-harinya.
Mereka berharap mempunyai kegiatan lain untuk mengatasi kejenuhan mereka. Apalagi, bagi wanita yang mempunyai skill dan pengalaman dari pekerjaan sebelumnya. Kenyamanan dan faktor hobi tidak dipungkiri menyumbang kesuksesan wanita dalam memulai kariernya. Setelah mengetahui beberapa latar belakang ini, beberapa jenis karier yang coco untuk wanita yang ingin merintis usaha, misalnya memulai bisnis melalui media internet. Bisnis ini dirasa tepat karena mobilitas wanita cukup sibuk dengan berbagai tuntutan pekerjaan inti sebagai ibu rumah tangga. Alasan lainnya, karena bisnis internet tergolong mudah, praktis, dan cepat. Hanya dengan menggunakan akses internet, mereka bisa dengan leluasa menjalankan bisnisnya sembari mengerjakan tugas sehari-hari.
Selain internet, jenis bisnis lain yang juga cukup digandrungi adalah multilevel marketing (MLM). Pilihan ini dikira cukup tepat karena tidak menyita banyak waktu dan bisa dilakukan dimana saja. Dengan menjalankan beberapa referensi  bisnis untuk wanita karier ini, mereka tidak akan merasa jenuh lagi dengan pekerjaan dan mereka juga akan mendapatkan keuntungan yang lebih dari bisnis baru mereka.

PAJAK KEKAYAAN



Hanya ada dua hal yang pasti didunia ini yakni : Kematian dan Pajak. Di Indonesia, kewajiban membayar pajak sudah diterima luas masyarakat. Dengan sosialisasi yang baik, pendataan yang lengkap, pengaturan hukum yang tegas, dan penggunaan dana pajak yang benar tidak dikorupsi seperti kasus Gayus Tambunan cs (boleh disebut), jumlah wajib pajak (WP) yang saat ini baru sekitar 23 juta akan terus meningkat. Kontribusi pajak terhadap pembangunan terus meningkat dan kini sekitar 70% pendapatan APBN berasal dari pajak.
Pemerintah telah menargetkan bahwa penerimaan pajak untuk tahun 2013 ini akan ditargetkan sekitar Rp 1.200 triliun. Target ini merupakan target yang sulit dan tidak mudah untuk dicapai. Pemerintah telah menyiapkan persiapan-persiapan dan rencana-rencan untuk merealisasikan akan target tersebut dengan merencanakan perluasan dan intensifikasi penerimaan pajak. Salah satu akan langkah terhadap intensifikasi penerimaan pajak tersebut salah satunya adalah rencana “Pajak Kekayaan”, khususnya pajak atas kepemilikan saham.
Yaah,, tentunya rencana ini kalau diartikan dan disentil secara halus tentunya akan menyinggungkan bagai sebuah rencana yang membunuh “angsa bertelur emas” tentunya dalam hal ini adalah bagi pelaku dan pemilik kalangan pasar modal. Bukan telurnya yang diambil, melainkan angsanya yang dibantai. Karena dengan alasan pemerintah tidak mencapai target pada tahun sebelumnya, pemerintah berencana menghidupkan kembali pajak yang sudah dihapus tahun 1983 karena bertentangan dengan filosofi pajak dan kontraproduktif terhadap upaya perluasan basis pemodal lokal.
Sebenarnya kita tidak patut menyalahkan pemerintah, dan tentunya tidak salah masyarakat menilai pemerintah khususnya Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kalap. Dengan hal alasan, penerimaan pajak hingga pertengahan Desember 2012 sekitar Rp 794 triliun atau 90% dari target. Tahun lalu, 2011 terealisasi pajak juga dibawah target.
Pajak kekayaan merupakan termasuk jenis pajak yang telah dihapus melalui UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan. Pajak Penghasilan (PPh) dikenakan kepada setiap penambahan ekonomis. Yang dipajak bukan deposito, melainkan bunga deposito. Yang dikenakan bukan nilai kapitalisasi saham, melainkan capital gain. Jika capital gain tidak direalisasikan, pajak tidak dikenakan.
Sungguh sangat tidak adil jika yang menjadi objek PPh adalah capital again meski keuntungan itu tidak direalisasikan. Jika pada saat harga saham melesat dikenakan PPh waktu si pemilik tidak direalisasikan sebagian keuntungan, bagaimana saat harga saham menurun dan si pemilik didera capital loss ? Hal ini yang membuat pemodal geram.
Pemerintah mungkin gemas melihat meningkatnya orang kaya atau mereka yang berkategori high net worth individual (HNWI).
Sebagian dari para HNWI memiliki portofolio saham hingga triliunan rupiah. Pajak hanya dibayarkannya saat menerima dividen dan merealisasikan capital gain. Pajak dividen tidak signifikan. Sedang pajak capital gain tidak ada selama saham tidak dijual atau keuntungan tidak direalisasikan.
Mengenai alasan pemerintah dalam merencanakan pajak kekayaan salah satunya adalah dengan praktik di sejumlah negara maju. Sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia seharusnya sudah menerpkan pajak kekayaan atas saham. Sepintas, alasan ini merupakan alasan yang kelihatan besar.
Jumlah wajib pajak (WP) dinegara itu sudah optimal, pasar modal dinegara maju sudah matang. Sedangkan berbicara Indonesia, jumlah WP masih kecil dan dari jumlah itu hanya sebagian yang membayar pajak dengan benar serta pasar modal Indonesia baru bertumbuh. Penerapan pajak kekayaan sungguh sangat menimbulkan potensi pajak berganda (double taxation) dan memicu pelarian modal (capital flight), serta kontraproduktif terhadap upaya pemerintah menggenjot investasi, terutama nvestasi portofolio di pasar saham.
Kebijakan ini juga menunjukkan DJP tidak kreatif  menggali sumber-sumber basis pajak baru melalui program ekstensifikasi. Data DJP menunjukkan, WP pribadi hanya 20,8 juta, padahal jumlah kelas menengah dengan pendapatan setahun di atas Rp 25 juta di atas batas pendapatan tidak kena pajak sudah sekitar 50 juta, perusahaan menengah 50.000, dan perusahaan besar sekitar 5.000. tapim WP badan baru 2 juta lebih, ini yang mesti menjadi sasaran DJP.
Pengenaan PPh atas kekayaan bisa saja menaikkan penerimaan pajak dalam jangka pendek, tapi dalam jangka menengah dan panjang justru merugikan dengan alasan sebagai berikut :
Pertama, pemegang saham pengendali akan menghambat kenaikan harga saham. Jika itu terjadi, pemegang saham minoritas individu maupun lembaga seperti dana pensiun dan asuransi akan kehilangan insentif untuk memperbanyak portofolio saham.
Kedua, penerapan pajak kekayaan akan menghambat upaya perluasan basis pemodal lokal. Saat ini, jumlah pemodal individu lokal baru sekitar 350.000. ditambah pemegang unit reksadana, pemodal yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) masih kurang dari satu juta. Pasar saham yang tangguh hanya mungkin bisa diarah jika investor lokalnya dominan.
Ketiga, kebutuhan dana investasi tidak cukup dibiayai dengan dana APBN, perbankan, dan foreign direct investment (FDI). Pasar modal menjadi menjadi alternatif sumber pendanaan yang sangat penting dan kemajuan pasar modal sangat ditentukan oleh partisipasi pemodal lokal, lembaga maupun individu. Masih banyak alternatif yang bisa diambil DJP untuk mendongkrak penerimaan pajak dan menaikkan tax ratio yang saat ini masih di bawah 12%. Semakin banyak orang berduit membeli saham, semakin banyak perusahaan yang go public dan semakin mudah perusahaan terbuka mendapatkan dana untuk mengembangkan usaha sehingga banyak tenaga kerja terserap. Dengan pengembangan usaha dan laba yang meningkat, PPh badan akan membesar. Jika perusahaan maju, pajak yang dibayar karyawan pun meningkat.
Janganlah pemerintah membantai angsanya, melainkan cukup mengambil telur emasnya. Angsa perlu dibesarkan dan diperbanyak agar semakin banyak telur emas yang bisa diambil.

Jumat, 08 Maret 2013

RETORIKA LOBI DAN JARINGAN



Retorika sebagai seni berbicara memang memiliki daya persuasi yang sangat tinggi, dengan menggunakan bahasa lisan yang indah (irama, mimik, dan intonasi suara).
Teknik Lobi merupakan kegiatan yang berupaya agar segala sesuatu berjalan tidak melalui kekuasaan melainkan melalui persuasi.
Lobi dapat terjadi :
a.     Antara dua orang, misalnya pada saat Ketua dan anggotanya memutuskan tanggal penyelesaian project yang harus diselesaikan oleh bawahan.
b.    Di dalam kelompok, misalnya untuk mengambil keputusan kelompok atas suatu kasus.
c.     Antar kelompok, misalnya bagian pembelian dengan pemasok dalam kesepakatan harga, kualitas atau tanggal penyerahan barang.

Pelobi yang baik :
a.      Percaya diri
b.    Menghargai orang lain
c.     Menciptakan penampilan yang baik
d.    Dapat mengendalikan emosi
e.     Tidak merasa sempurna
f.     Ramah, sopan, simpatik & humor
g.    Berpikir positif
h.      Sabar, ulet & tidak mudah putus asa
i.      Mencintai & memiliki profesi yang ditekuni

Persiapan Lobi :
Mempersiapkan bahan materi pembicaraan Menyusun tujuan sekaligus target yang akan dicapai Membuat janji Waktu pelaksanaan pertemuan. Dengan siapa Mengenal lebih jauh yang akan di lobby (kepribadian, hobby, sifat & karakter, dll) dari orang dekat). Kenal & akrab dengan orang dekatnya (Sekretaris, Ajudan, Rekan, dll). Persiapan penampilan (pakaian, sepatu, dasi, alat tulis, dll), sehingga menarik simpati & meyakinkan. Cheking seluruh persiapan.

Pelaksanaan Lobi

a)      Awali pembicaraan yang menyenangkan
b)      Uraikan secara jelas & singkat maksud dan tujuan
c)      Beri kesempatan untuk menanggapi
d)     Ikuti pembicaraan & ditanggapi dengan halus dengan menyanjung/pun memberikan usulan yang menarik
e)      Jika sudah menyangkut pokok persoalan dalam menanggapi langsung dipancing untuk mendukung/menyetujui keinginan kita sesuai dengan tujuan & target pembicaraan
f)       Akhiri dengan menyimpulkan & meningkatkan / mempertegas hasil pembicaraan pembicaraan
g)      Akhiri dengan kesan yang baik jika perlu tindak lanjut segera buat janji untuk pertemuan berikutnya

Setelah selesai pembicaraan jika ada sekretaris/ajudan/staf sampaikan terimakasih & diberitahu hal-hal yang sesuai dengan tugas mereka. Akhir Lobi…

Selasa, 12 Februari 2013

SEJARAH PMII



Bukti sejarah telah menempatkan mahasiswa dan pemuda sebagai kelompok strategis untuk transformasi pembebasan sosial. Keberanian pemuda dan mahasiswa untuk perubahan Indonesia dimulai saat kolonialisme Belanda di Indonesia.
Desember 1955 IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama) didirikan di Jakarta atas peloporan Wail Haris Sugianto. Di Surakarta beberapa mahasiswa NU yang dimotori Mustahal Ahad mendirikan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU). Berdirinya organ mahasiswa NU ingin menjawab pelitnya problematika bangsa. Yakni carut marut atmosfer perpolitikan bangsa Indonesia yang dipimpin Soekarno (1950-1959).
NU kemudian memisahkan diri dari Masyumi, mahasiswa NU juga meninggalkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) karena merasa tidak nyaman dengan organ tersebut. HMI dirasa lebih dekat dengan tindakan politik praktis Masyumi.
Mahasiswa yang berideologi ahlu sunnah wal jama’ah berkeinginan kuat mendririkan wadah sendiri untuk menyalurkan aspirasi dan mengembangkan potensi mereka. Tidak mengandalkan HMI atau organ kemahasiswaan lain. Nalar kritis mahasiswa NU semakin bergejolak melihat carut marut Indonesia sehingga ingin menjadi diri sendiri, berjuang demi perubahan mendasar Agama dan Bangsa Indonesia.
Namun awal berdirinya organ ekstra kemahasiswaan NU ini ditentang keras pimpinan pusat IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan Pengurus Besar NU. Awalnya IPNU baru berdiri 24 Februari 1954 di Semarang dan menganggap berdirinya IMANU dan KMNU sangat tergesa-gesa. Jumlah mahasiswa NU masih sedikit dan muncul kekhawatiran jika IMANU dan KMNU akan mengalahkan eksistensi IPNU.
Pada 1-5 Januari 1957 terjadi perdebatan hangat lagi tentang gagasan pembuatan wadah bagi mahasiswa NU dalam Muktamar IPNU ke-2 di Pekalongan. Gagasan mahasiswa NU mendirikan organuisasi sendiri kembali ditentang karena organisasi kemahasiswaan di tubuh NU hanya menjadi pesaing IPNU. Agar tidak terjadi perpecahan di tubuh kader NU, diambil langkah akomodatif dengan membentuk departemen perguruan tinggi (DPTIPNU) saat muktamar IPNU ke-3 di Cirebon dengan ketua DPT Ismail Makky (Mahasiswa senior fakultas syari’ah PTAI Yogyakarta).
Pada 14-16 April1960 dilaksanakan musyawaroh mahasiswa NU di sekolah Mu’amalat NU Wonokerto, Surabaya. Pesertanya perwakilan mahasiswa NU dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Makasar, dan sejumlah perwakilan senat mahasiswa dari PT yang bernaung dibawah NU.
Musyawaroh mahasiswa NU membawa perdebatan panjang tentang nama organisasi. Mahasiswa Jakarta mengusulkan IMANU, Yogyakarta mngajukan nama Persatuan / Perhimpunan mahasiswa Ahlu Sunnah Wal Jama’ah atau perhimpunan mahasiswa sunni. Sedangkan Bandung dengan dukungan Surakarta mengusulkan PMII. Kemudian disepakati bersama dengan nama PMII. Namun, yang masih perdebatan adalah kepanjangan huruf “P” dalam PMII adalah Persatuan dan Perhimpunan. Kemudian memutuskan dengan kepanjangan “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia” (PMII).
“P”, “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia” sebagai bukti bahwa PMII bukan organisasi mahasiswa yang sekedar kumpul bareng (Himpunan), gerombolan grubyak-grubyuk yang tidak bermanfa’at. Himpunan atau Kumpulan adalah bentuk stagnasi (tidak dinamis) organ gerakan. “Pergerakan” merupakan cerminan mahasiswa yang selalu dinamis, progresif, setia berjuang demi perubahan, pemberontakan penindasan, dan ketidakadilan.

INDEPENDENSI PMII
Sebagai organ ekstra yang menyuarakan nilai idealisme merupakan keniscayaan PMII untuk independen, terlepas dari organisasi apapun. Karena gerakan adalah kemandirian dalam bersikap dan bertindak, tidak pro kekuasaan, dimana sebelumnya PMII masih menginduk di Partai NU. Kedekatan PMII dengan partai apapun sangat rawan konflik kepentingan, bahkan perpecahan yang menghancurkan nilai identitas kemahasiswaan di era orba.
Sehingga pada 14 Juli 1971 PMII merancangkan independen sebagai organ ekstra kemahasiswaan. Pernyataan itu diucap dalam musyawaroh besar (MUBES) PMII di Murnajati, Pandaan, Jawa Timur. Kemudian resmi PMII menyatakan independen dalam kongres V PMII 1973 di Cikota, Jawa Barat.langkah independen PMII sebagai langkah menciptakan iklim tertib dan aman demi perbaikan karena krisis moneter di era Soekarno. Independensi PMII ditempuh karena selama organ ekstra kemahasiswaan perhatiannya bnyak tercurah dan lelah tersita untuk mengurusi kepentingan politik parpol. Independensi untuk mengembalikan gerakan sosial kultural mahasiswa yang nyaris terabaikan. Juga sebagai upaya internalisasi dan sosialisasi asas ahlu sunnah wal jama’ah.
Walaupun PMII independen, namun tidak bisa dipisahkan dari NU. Karena secara ideologi yang ahlu sunnah wal jama’ah. Sehingga secara tegas, hubungan yang diambil PMII dengan NU adalah interdependensi (saling ketergantungan). Karena NU sekarang telah kembali sebagai jam’iyyah keagamaan bukan parpol lagi.